Pengertian profesi
Profesi sering kita artikan dengan
“pekerjaan” atau “job” kita sehari-hari. Tetapi
dalam kata profession yang berasal dari perbendaharaan Angglo Saxon tidak hanya
terkandung pengertian “pekerjaan” saja. Profesi mengharuskan tidak hanya pengetahuan
dan keahlian khusus melalui persiapan dan latihan, tetapi dalam arti
“profession” terpaku juga suatu “panggilan”. Adapun pengertian profesi itu
sendiri adalah pekerjaan tetap seseorang dalam bidang tertentu berdasarkan
keahlian khusus yang dilakukan secara bertanggung jawab dengan tujuan
memperoleh penghasilan.
Dengan begitu, maka arti
“profession” mengandung dua unsur. Pertama unsur keahlian dan kedua unsur
panggilan. Sehingga seorang “profesional” harus
memadukan dalam diri pribadinya kecakapan teknik yang diperlukan untuk
menjalankan pekerjaannya, dan juga kematangan etik. Penguasaan teknik saja
tidak membuat seseorang menjadi “profesional”. Kedua-duanya harus menyatu.
Secara spesifik Profesi dapat
dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu
1. Menurut kemampuannya (fisik dan
intelektual)
2. Kelangsungan (sementara atau
terus menerus)
3. Ruang lingkupnya (umum dan
khusus),
4. Tujuannya yaitu memperoleh pendapatan atau tidak memperoleh
pendapatan
Nilai moral
suatu profesi menurut Frans Magnis Suseno, 1975 :
1. Berani berbuat untuk tuntutan
Profesi
2. Menyadari kewajiban yang harus
dipenuhi
3. Idealisme sebagai perwujudan
makna misi organisasi profesi
Pengertian profesional
Pengertian profesional yaitu
Pekerja yang menjalankan profesi. Setiap profesional berpegang pada nilai moral
yang mengarahkan dan mendasari nilai luhur. Dalam melakukan tugasnya
profesional haruslah objektif, dengan kata lain bebas dari rasa malu, sentimen,
benci, sikap malas, dan enggan bertindak.
Yang dimaksud kelompok profesional
yaitu suatu kelompok yang berkemahiran yang diperoleh melaui proses pendidikan
dan pelatihan yang berkualitas dan berstandart tinggi yang dalam menerapkan
semua keahlian dan kemahirannya yang tinggi itu hanya dapat dikontrol dan
dinilai oleh rekan sesama profesi itu sendiri.
Seorang profesional memiliki tiga
watak, yaitu antaranya :
1. Pekerjaan yang dilakukan seorang
profesional itu semata mata untuk merealisasikan kebajikan demi tegaknya kehormatan
profesi yang digeluti.
2. Seorang profesional menjalankan pekerjaannya harus dilandasi oleh kemahiran teknis yang berkualitas tinggi.
3. Kerja seorang profesional diukur dengan kualitas teknis dan kualitas moral dan harus menundukkan diri pada sebuah kode etik yang dikembangkan dan disepakati.
2. Seorang profesional menjalankan pekerjaannya harus dilandasi oleh kemahiran teknis yang berkualitas tinggi.
3. Kerja seorang profesional diukur dengan kualitas teknis dan kualitas moral dan harus menundukkan diri pada sebuah kode etik yang dikembangkan dan disepakati.
Pengertian profesionalisme
Profesionalisme merupakan suatu
paham, tingkah laku, tujuan atau suatu rangkaian kualitas yang menandai atau
melukiskan coraknya suatu “profesi” yang dilakukan dalam kegiatan-kegiatan
kerja tertentu dalam masyarakat, berbekalkan keahlian yang tinggi dan
berdasarkan rasa keterpanggilan serta ikrar untuk menerima panggilan tersebut
suatu. Profesionalisme mengandung pula pengertian menjalankan suatu profesi
untuk keuntungan atau sebagai sumber penghidupan.
Dalam perkembangannya perlu
diingat, bahwa profesionalisme mengandung dua unsur, yaitu unsur keahlian dan
unsur panggilan, unsur kecakapan teknik dan kematangan etik, unsur akal dan
unsur moral. Dan kedua-duanya itulah merupakan
kebulatan unsur kepemimpinan. Dengan demikian, jika berbicara Tentang profesionalisme
tidak dapat kita lepaskan dari masalah kepemimpinan dalam arti yang luas.
Seseorang yang memiliki jiwa
profesionalisme senantiasa mendorong dirinya untuk mewujudkan kerja-kerja yang
profesional. Kualiti profesionalisme didokong oleh ciri-ciri sebagai berikut:
1. Keinginan untuk selalu
menampilkan perilaku yang mendekati piawai ideal.
Seseorang yang memiliki profesionalisme tinggi akan selalu berusaha mewujudkan dirinya sesuai dengan piawai yang telah ditetapkan. Ia akan mengidentifikasi dirinya kepada sesorang yang dipandang memiliki piawaian tersebut. Yang dimaksud dengan “piawai ideal” ialah suatu perangkat perilaku yang dipandang paling sempurna dan dijadikan sebagai rujukan.
2. Meningkatkan dan memelihara imej profesion
Profesionalisme yang tinggi ditunjukkan oleh besarnya keinginan untuk selalu meningkatkan dan memelihara imej profesion melalui perwujudan perilaku profesional. Perwujudannya dilakukan melalui berbagai-bagai cara misalnya penampilan, cara percakapan, penggunaan bahasa, sikap tubuh badan, sikap hidup harian, hubungan dengan individu lainnya.
3. Keinginan untuk sentiasa mengejar kesempatan pengembangan profesional yang dapat meningkatkan dan meperbaiki kualiti pengetahuan dan keterampiannya.
4. Mengejar kualiti dan cita-cita dalam profesion
Seseorang yang memiliki profesionalisme tinggi akan selalu berusaha mewujudkan dirinya sesuai dengan piawai yang telah ditetapkan. Ia akan mengidentifikasi dirinya kepada sesorang yang dipandang memiliki piawaian tersebut. Yang dimaksud dengan “piawai ideal” ialah suatu perangkat perilaku yang dipandang paling sempurna dan dijadikan sebagai rujukan.
2. Meningkatkan dan memelihara imej profesion
Profesionalisme yang tinggi ditunjukkan oleh besarnya keinginan untuk selalu meningkatkan dan memelihara imej profesion melalui perwujudan perilaku profesional. Perwujudannya dilakukan melalui berbagai-bagai cara misalnya penampilan, cara percakapan, penggunaan bahasa, sikap tubuh badan, sikap hidup harian, hubungan dengan individu lainnya.
3. Keinginan untuk sentiasa mengejar kesempatan pengembangan profesional yang dapat meningkatkan dan meperbaiki kualiti pengetahuan dan keterampiannya.
4. Mengejar kualiti dan cita-cita dalam profesion
Profesionalisme ditandai dengan kualiti darjat rasa bangga akan profesion yang
dipegangnya. Dalam hal ini diharapkan agar seseorang itu memiliki rasa bangga
dan percaya diri ak
Ada pula empat perspektif dalam
mengukur profesionalisme menurut gilley dan enggland :
1. Pendekatan berorientasi
filosofis pendekatan lambang profesional, pendekatan sikap individu dan
electric
2. Pendekatan perkembangan bertahap
individu (dengan minat bersama) berkumpul, kemudian mengidentifikasikan dan
mengadopsi ilmu, untuk membentuk organisasi profesi, dan membuat kesepakatan
persyaratan profesi, serta menentukan kode etik untuk merevisi persayaratan.
3. Pendekatan berorientasi
karakteristik etika sebagai aturan langkah- langkah, pengetahuan yang
terorganisasi, keahlian dan kompentensi khusus, tinggkat pendidikan minimal, sertifikasi keahlian.
4. Pendekatan berorientasi
non-tradisional mampu melihat dan merumuskan karakteristik unik dan kebutuhan
sebuah profesi.
Adapun syarat profesionalisme yaitu
:
a. dasar ilmu yang dimiliki kuat
dalam bidangnya
b. penguasaan kiat-kiat profesi
berdasarkan riset dan praktis
c. pengembangan kemampuan
profesional yang berkesinambungan
Hal- hal yang menyebabkan rendahnya
profesionalisme diantaranya:
a. tidak menekuni profesi tersebut
b. belum adanya konsep yang jelas
terhadap etika profesi tersebut
c. belum adanya organisasi yang
menangani para profesional dalam bidang tersebut
Dalam hal ini
seorang yang profesional, dapat dikatakan profesional apabila memiliki
sertifikat keprofesionalannya, berikut contoh sertifikat tersebut :
a. setifikasi microsoftword ( MCP” microsoft certified professional”)
b. sertifikasi oracle(
OCA, OCP, OCM )
c. sertifikasi CISCO ( CCNA, CCNP,
CCIE )
Sumber :
http://profesionalismedalambekerja.blogspot.com/
Juli 16, 2010 oleh hoeda87


